
Manega Kerinci – Memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026, Menteri Agama RI Nasaruddin Umar membawa gagasan segar dalam transformasi dunia pendidikan nasional. Menag menekankan bahwa untuk memajukan pendidikan di masa depan, institusi pendidikan perlu mengintegrasikan dua konsep fundamental: Kurikulum Cinta dan Ekoteologi.
Gagasan ini disampaikan sebagai upaya untuk menjawab tantangan zaman yang semakin kompleks, di mana kecerdasan intelektual saja tidak lagi cukup tanpa disertai dengan kepekaan rasa dan tanggung jawab terhadap lingkungan.
Kurikulum Cinta: Menyentuh Hati, Membangun Karakter
Menurut Menag, "Kurikulum Cinta" bukanlah sekadar materi pelajaran tambahan, melainkan sebuah pendekatan pedagogis yang menempatkan kasih sayang sebagai basis interaksi antara pendidik dan peserta didik.
Pendidikan Berbasis Empati: Menghapuskan praktik kekerasan dan perundungan di lingkungan satuan pendidikan.
Penyemaian Nilai Inklusif: Mengajarkan siswa untuk menghargai perbedaan sebagai manifestasi rasa cinta kepada sesama makhluk Tuhan.
Keseimbangan Emosional: Memastikan anak didik tumbuh dalam lingkungan yang mendukung kesehatan mental dan kebahagiaan batin.
"Pendidikan tanpa cinta hanya akan menghasilkan robot-robot cerdas tanpa jiwa. Kita butuh kurikulum yang mampu menyentuh hati agar ilmu yang didapat membawa manfaat bagi kemanusiaan," tegas Menag.
Ekoteologi: Melestarikan Alam sebagai Bagian dari Iman
Selain aspek kemanusiaan, Menag juga menyoroti pentingnya Ekoteologi dalam sistem pendidikan. Konsep ini memadukan pemahaman keagamaan dengan kesadaran pelestarian lingkungan.
Melalui Ekoteologi, siswa diajarkan bahwa menjaga alam adalah bagian dari ibadah dan tanggung jawab spiritual. Pendidikan diharapkan mampu melahirkan generasi yang proaktif dalam menghadapi krisis iklim dan menjaga keberlanjutan bumi melalui gaya hidup ramah lingkungan.
|
31x
Dibaca |
. |
Untuk Wilayah Kab. Kerinci dan Sekitarnya
Memuat tanggal...