
KERINCI – Pesatnya perkembangan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence / AI) di era digital saat ini memang memberikan kemudahan luar biasa dalam mengakses informasi dan media pembelajaran. Namun, secanggih apa pun teknologi AI berkembang, peran dan sosok guru dalam dunia pendidikan dipastikan tidak akan pernah bisa digantikan sepenuhnya oleh mesin.
Teknologi AI mampu menyajikan materi pelajaran, menghitung rumus rumit, hingga menganalisis data secara instan dalam hitungan detik. Meski demikian, AI tidak memiliki empati, perasaan, intuisi, serta keteladanan moral yang menjadi fondasi utama dalam mendidik dan membimbing karakter peserta didik.
Dalam proses belajar-mengajar di madrasah, kehadiran guru tidak sekadar bertindak sebagai penyampai materi (transfer of knowledge), melainkan sebagai pendidik yang menanamkan nilai-nilai akhlak, etika, kedisiplinan, serta rasa empati (transfer of values). Hubungan emosional dan interaksi tatap muka antara guru dan siswa memegang peranan kunci dalam membentuk mentalitas serta motivasi belajar peserta didik.
Kepala MAN 3 Kerinci, Ibu Tistiarni, S.Ag., M.Pd.I., menegaskan pentingnya menyikapi kehadiran AI secara bijak di lingkungan pendidikan tanpa melupakan hakikat utama dari sosok pendidik.
"AI adalah alat bantu yang sangat hebat untuk mendukung efektivitas pembelajaran, tetapi AI tidak memiliki hati. Guru hadir tidak hanya untuk mengajar, tetapi untuk membimbing, menginspirasi, dan menyentuh hati anak-anak kita. Rasa kepedulian, motivasi saat siswa jatuh, serta keteladanan akhlakul karimah hanya bisa diberikan oleh seorang guru. Oleh karena itu, peran guru tetap mutlak dan tak tergatikan," tegas Ibu Tistiarni.
Melalui pemanfaatan teknologi yang bijak, MAN 3 Kerinci terus mendorong para pendidik untuk menjadikan AI sebagai mitra kerja dalam memperkaya metode pengajaran, sembari tetap menjaga nilai-nilai humanis dan pembentukan karakter peserta didik di lingkungan madrasah.
|
45x
Dibaca |
. |
Untuk Wilayah Kab. Kerinci dan Sekitarnya
Memuat tanggal...